KECAMATAN CEPOGO Jl. Boyolali - Magelang Km 5, Boyolali, Jawa Tengah 57362



Cepogo adalah salah satu kecamatan di Boyolali-Jawa Tengah, tepatnya di lereng sabuk gunung Merapi bagian timur. Wilayah Cepogo dibelah oleh aliran sungai atau jurang gandul yang hilirnya sampai di Bengawan Solo. Selatan gandul terdiri dari lima desa dan sebagian wilayah desa Jelok, yakni : Wonodoyo, Jombong, Gedangan, Sumbung dan Paras. Sebelah utara sungai gandul terdiri dari sembilan desa dan sebagian lain wilayah desa Jelok, yakni : Bakulan, Cabean Kunti, Candi Gatak, Cepogo, Mliwis, Genting, Sukabumi, Kembang kuning, dan Gubug. Kecamatan Cepogo berbatasan dengan Kecamatan Ampel, Selo, Musuk, dan Boyolali.

Cepogo diyakini berasal dari kata “pogo” yang dalam bahasa jawa berarti “rak yang berada di dapur atau pawon”. Pogo sendiri digunakan sebagai tempat menyimpan perlengkapan dapur termasuk empon-empon (jamu atau bumbu masak), dan biji bijian seperti kopi, beras dan jagung. Penempatan pogo biasanya di atas luweng/tungku, sehingga sesuatu yang disimpan disana awet/tahan lama, tidak cepat menjamur/bertunas dan mudah ditemukan. Sedangkan kata “ce” awalan kata “pogo” diyakini dari kata akhiran “tje” (bahasa belanda) seperti : laci – dari kata de lade disingkat menjadi de la kemudian diberi akhiran –tje menjadi het laatje dan masuk ke telinga Indonesia menjadi ’laci’. Ejaan “tj” pada tjepogo tersebut kemudian berubah menjadi “c” cepogo, seiring dengan ejaan yang disempurnakan.

Dalam “Führer auf Java: Ein Handbuch für Reisende.” atau  “Panduan Ke Jawa : Buku Pegangan Untuk Wisatawan”, Berbahasa Jerman yang terbit tahun 1942, tertulis bahwa terdapat perkebunan kopi dan chioa (biji telasih) di Sukabumi (Tjepogo).  Dalam buku ini juga dijelaskan juga bahwa divisi pemerintahan kerajaan solo membagi bojolali di 5 distrik yakni bojolali, tumang, banju dono, kuripan dan djattinom. Dalam Bahasa Jawa, tumang diartikan sebagai pengganjal bibir dapur atau tungku, sedangkan tumangan (papan kanggo ngobong), adalah tempat pembakaran. Hal ini selaras dengan paribasa atau peribahasa dalam bahasa jawa “Lambe satumang, kari samerang” yang artinya “bibir setebal tumang/bibir tungku dapur, tinggal sebatang padi”.

Cepogo (tje-pogo, rak penyimpan di pawon) dan Tumang (ganjel luweng/pawon/tempat pembakaran) yang keduanya berada di dapur, adalah peristilahan segaris yang lekat sejak jaman belanda dan jawa kuno. Istilah “Tumang” sendiri diyakini masyarakat setempat sudah ada sejak abad  kesembilan atau masa mataram hindu dan masih banyak meninggalkan tradisi sampai sekarang. “Nyadran” atau tradisi sadranan sampai saat ini masih terjaga dan terus berlangsung. Bagi masyarakat Cepogo, tradisi ini memiliki kedudukan yang penting layaknya lebaran, warga perantauan yang menyempatkan untuk pulang kampung ketika tradisi  ini digelar. Tradisi ini diawali dipagi buta, ratusan warga setempat mulai mempersiapkan diri untuk berziarah ke makam dengan membawa tenong (penyimpan makanan) dari anyaman bambu. Ratusan tenong milik warga berjejer rapi di depan sesepuh desa, ulama dan warga, ber-dzikir dan tahlil bersama kepada Alloh Subhanahu wa Ta'ala. Seusai berdoa, dilanjutkan makan bersama, dan setiap orang dipersilakan untuk mengambil makanan yang tersedia di tenong. Setelahnya, warga menggelar “Open House”, membuka pintu untuk umum bersilaturahim dan menikmati jamuan makan dengan hidangan lokal. Ada sebagian kepercayaan warga, jika tenong mereka habis disantap warga, juga semakin banyak tamu yang datang dan menyantap makanan mereka, maka rejeki di tahun depan akan semakin lancar dan berkah. Tradisi bersilaturahim ini bukan hanya dihadiri oleh warga setempat, tapi banyak yang dari sekitar desa dan sekitar kecamatan bahkan luar kabupaten hadir untuk “Nyadran di Cepogo”.

Kecamatan Cepogo, sampai hari ini masih menjadi tempat suburnya bungan selasih (telasih) rempah sekaligus penyegar lengkap dengan tradisi nyadran-nya. Disamping itu Tumang semakin mendunia dengan kerajinan tembaga yang menembus ekspor ke berbagai negara. Demikian pula ternak sapi dan susu, Cepogo adalah salah satu penyumbang produksi daging dan susu terbesar di Boyolali, tak heran kolonjono menjadi pager ayu sepanjang jalan dan tegalan. Tak lupa sayur dan tembakau juga menjadi mata pencaharian warga setempat. Berbagai industri juga sedang tumbuh, selaras cepogo yang terus berbenah dengan pembangunan pasar dan pasar hewan, stadion sepak bola, workshop tembaga, serta jalan belanda. Sebagaimana yang lain, anggaran desa se Kecamatan Cepogo diarahkan untuk kesejahteraan masyarakatnya, tidak hanya untuk infrastuktur, di Cepogo juga ada desa pesantren, yakni desa yang anak-anaknya ke tpa, remaja mengaji dan rutinan muslimin/muslimatnya, ber-madrasah senantiasa menegakkan tiang keimanan dan ketaqwaan. Kebhinekaan selalu ada, kerukunan terus dijaga. Cepogo terus maju, menjunjung nilai agama dan keberagaman, “Sembur-sembur adus, siram-siram bayem”, iso kalaksanan amarga oleh pandongane wong akeh, gemah ripah loh jinawi tata tentrem kerta raharja.

Secarik Cerita, Telasih Tjepogo - Mliwis21032019

Ditulis oleh StenCepogo2019 - Anamsa Ida Nasni

Berita

Pengumuman

Link SKPD